Ada Yang Lebih Penting Dari Polemik Politik Kongres PMII, Yakni Kaderisasi

Ada Yang Lebih Penting Dari Polemik Politik Kongres PMII, Yakni Kaderisasi


Dalam ruang lingkup  organisasi PMII, pengkaderan adalah hal yang sangat urgent sebab kader adalah penentu masa depan di sebuah organisasi, kegagalan pengkaderan berarti gagal dalam berorganisasi. Mengingat begitu pentingnya kaderisasi maka setiap organisasi dituntut untuk membina kader berkualitas agar kelak eksistensi dari organisasi tetap terjaga.

Kaderisasi dari masa ke masa seharusnya beda pola, beda model dan tentunya pola-pola yang dipakai atau digunakan yang selaras  dengan zaman agar jatuhnya pola kaderisasi itu tidak monoton .

Bagi kita berdua ada  hal lucu namun tidak layak ditertawakan oleh sahabat-sahabat jika kultur bersifat memaksa meski itu sudah tidak relevan dengan zaman hari ini, apalagi jika senior yang purna jabatan diorganisasi masih ehmm ehmmm dan turut campur tangan  dalam organisasi, tapi ada bagusnya  peranan senior purna jabatan memang sangat dibutuhkan dalam berorganisasi namun bukan berarti dia punya otoritas untuk menyetir   dan lain sebagainya. 

Tugas senior hanya sebatas memberi masukan, motivasi bukan malah intervensi. saran dan kritikan dari kita berdua kader dengan segudang yang prematur pemahaman ini, kalau mau terjun,yah jadi pemateri saja mungkin, itu kan sangat  bermanfaat sekali, selebihnya berikan kewenangan kepada fungsionaris organisasi untuk menjalankan sebagaimana konsep yang diusung , jikapun hal demikian takut untuk dilakukan karena ketakutan berlebih maka kita berdua katakan, "berhenti berteriak dimuka toa mengkritik birokrasi jika kau masih takut mengkritik senior"  ingat seperti Birokrasi, senior juga bukan Tuhan yang selalu benar.
Kita bukan menyalahkan dan melawan terhadap senior atau atasan, akan tetapi muak melihat kongres PMII XX hari ini ramai di berita-berita, bising di telinga bahwa banyak intervensi dalam memilih pucuk pimpinan di PMII.

kongres PMII Ke XX ini seharusnya dapat menjadi wahana  efektif untuk intropeķsi dan evaluasi diri maupun organisasi terhadap berbagai kekurangan, permasalahan dan kendala kinerja organisasi PMII selama ini. 

Selain dari pada  itu, kebersamaan dalam kongres ini hendaknya dapat meningkatkan tali persahabatan  dan persatuan keluarga besar PMII dari Sabang sampai Merauke dari miangas sampai pulau Rote serta mampu menjembatani aspirasi dan kepentingan anggota yàng semakin kompleks.

Selebihnya setelah terpilihnya kepengurusan baru di kongres ke xx PMII ini, pimpinan baru harus  yang lebih berkompeten dan menghasilkan berbagai keputusan yang bermanfaat bagi peningkatan kinerja Organisasi PMII kususnya dalam hal pengolahan SDM kader yang kuantitasnya begitu banyak.

Sebagai organisasi yang memasuki usia paruh baya, PMII harus lebih mempertajam diri menganalisa berbagai perkembangan hari ini khususnya dalam lingkup dunia kemahasiswaan, umunya di luang lingkup sosial karena mau tidak mau itu semua akan menentukan apakah organisasi PMII ini “layak atau tidak” disebut sebagai garda terdepan dalam kaderisasi bangsa  ini,dan apakah PMII pantas dengan apa yang disebutkan presiden RI pada pembukaan kongres PMII ke XX, bahwa organisasi PMII itu organisasi yang besar yang menentukan maju mundurnya negara Indonesia kedepan,  dan PMII harus jadi navigasi perubahan. Pertanyaannya apakah itu selaras dengan kenyataan PMII hari ini? Yang terus stagnan di polemik kongres dan perebutan kekuasaan pucuk pimpinan PMII tanpa merumuskan role model kaderisasi untuk menjawab kebutuhan organisasi kedepan.

Jika setingkat rayon dan komisariat merupakan garda terdepan dalam persolan kaderisasi, lantas apa yang menjadi prioritas para pucuk pimpinan organiasi? Perebutan kekuasaan? Itupun tak kunjung berkesudahan, hanya menunggu suara senior yang kita lebih akrab menyebutnya "suara dewa" datang, yang seolah menjadi angin segar nan membawa perdamaian. Jika demikian halnya dimanakah letak kedewasaan PMII, yang kini telah menginjak usia paruh baya.

Seharusnya ada hal yang dipandang lebih urgent selain soal pergantian kepengurusan, adalah persoalan kaderisasi, bagaimana PMII bisa berselancar ditengah era digitalisasi ditambah dengan pandemi Covid-19, sudahkah ada formulasi khusus tepat dan terukur berbicara persoalan ini?, apa guna paradigma jika tak bisa memecah persoalan ini, ataukah PMII mencontoh pemerintah yang dalam hal pendidikannya hanya terkesan "coba-coba".

Jika regenerasi dianggap sebagai ujung tombak sebuah organisasi, maka penting kiranya kita berlarut dalam persoalan formulasi kaderisasi yang efektif dan relevan di era saat ini, bukan malah terlarut dalam diaspora dan dialektika perebutan kekuasaan. Sebab PMII bukan parpol yang berbicara persoalan demokrasi liberal yang muaranya pada seberapa banyak voting yang didapat, kembalilah pada demokrasi pancasila, sebab demokrasi pancasila tak mengenal voting dan angka.

Salam dari kader akar rumput, PK PMII SYAMSUL'ULUM Cabang Kota Sukabumi "Ada yang lebih penting dari polemik kongres PMII, Yaitu KADERISASI"

Penulis : Sibuntang & Sibegang (Kader PK PMII syamsul'ulum cabang kota sukabumi)

You may like these posts